TRANS JOGJA : Lebaran Mendebarkan Penjaga Shelter

Eva Syahrani/JIBI/Harian Jogja 0

Foto Shelter Trans Jogja
JIBI/Harian Jogja/Gigih M Hanafi

Harianjogja.com-Lebaran adalah peristiwa yang dinantikan banyak orang. Semua orang ingin merayakan hari raya ini dengan penuh suka cita. Tapi sayangnya, pada Idulfitri kali ini karyawan shelter bus Trans Jogja dirundung cemas dan dag dig dug. Apa yang terjadi?

Seperti hari biasanya Adi Darmawan seorang karyawan halte bus Trans Jogja memulai pekerjaannya. Namun ia tampak gusar. Beberapa kali ia aktif berkomunikasi dengan rekan-rekannya. Sepertinya Adi ingin membagi kegusaran. Bapak satu anak ini ternyata gusar karena di tengah menyambut momen Lebaran ia mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan.

Sambil menunjukkan berita yang ditulis Harian Jogja beberapa waktu lalu, ia menceritakan kegusarannya. Pada pemberitaan itu dimuat Dinas Perhubungan DIY berencana akan merasionalisasi jumlah karyawan dan menggantikan dengan mesin. Sebagai salah satu bagian dari karyawan ia pun mengaku waswas.

“Ya takut kalau sampai itu terjadi. Kemungkinan terburuk sudah tidak dapat bekerja,” ucap dia ditemui, Jumat (2/8/2013).

Bagaimana tidak gusar, penghasilan dari bekerja sebagai pegawai shelter Trans Jogja adalah penyokong utama kehidupan. Sebagai kepala keluarga penghasilannya memang yang utama.

Lima tahun sudah pria yang mengaku senang mendapat teman baru setiap pindah halte ini menempuh jarak Wonosari-Jogja untuk bekerja. Lelah dan risiko perjalanan tidak dihiraukan.

Bahkan belum lama ini ia juga rela meninggalkan sang istri dan buah hatinya karena harus indekos di Jogja. Kenaikan harga BBM meruntuhkan kekuatan tubuhnya menempuh jarak Jogja-Wonosari setiap hari. Semua ini dilakukan hanya demi menghidupi anak dan istri.

Namun kini pengabdian dan pengorbanannya selama sekitar lima tahun pun dipertaruhkan. Pria asli Wonosari, Gunungkidul ini belum dapat membayangkan jika nanti ia harus kehilangan pekerjaan yang sudah lima tahun menghidupi keluarga.

Hal yang sama juga dialami Ananta Marti Wijaya. Karyawan yang juga sudah bekerja selama lima tahun ini juga berharap Pemerintah memperhatikan nasib karyawan, terlebih yang sudah lama mengabdi.

Menjadi karyawan shelter Trans Jogja dahulu sangat tidak diminati. Banyak orang yang tidak mau menjadi karyawan. Namun dengan penuh perjuangan Ananta pun bertahan selama lima tahun sebgai karyawan kontrak.

Meski mengaku pasrah ia berharap Pemerintah Daerah melalui pihak terkait dapat memikirkan ulang rencana merasionalisasi karyawan. Sebab sebagian besar karyawan shelter bus Trans Jogja merupakan tulang punggung keluarga.

“Bagaimana yang suami istri kerja di sini seperti kami. Kalau dipecat semua mau makan apa, terlebih sekarang sudah ada anak. Semoga masih ada hati,” harap dia.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)

    A- A A+