PELAYANAN KESEHATAN : Indonesia Kekurangan Ribuan Dokter Bedah Syaraf

Kurniawan/JIBI/Solopos Comments Off

Ilustrasi Ilustrasi

Solopos.com, SUKOHARJO – Perhimpunan Spesialis Bedah Syaraf Indonesia (Perspebsi) Wilayah Solo dan RS dr Oen Solo Baru, Sukoharjo, akan menggelar workshop bedah syaraf penanganan nyeri, Sabtu (28/9/2013).

Acara yang akan dihelat di Rumah Sakit (RS) dr Oen Solo Baru, Sukoharjo itu, mengambil pokok bahasan penatalaksanaan nyeri pada tulang belakang. Pembicara workshop adalah dokter spesialis bedah syaraf RS dr Oen Solo Baru, Untung Alifianto.

Keterangan itu disampaikan Untung Alifianto saat jumpa wartawan, Selasa (24/9/2013). Dia menjelaskan, RS dr Oen Solo Baru dipilih sebagai tempat workshop karena ketersediaan alat bernama C-Arms. Alat ini sangat penting dalam sebuah operasi bedah syaraf.

Workshop digelar dalam rangka pertemuan ilmiah tahunan Perspebsi. Untung menjelaskan, Indonesia kekurangan ribuan dokter spesialis bedah syaraf. Perbandingan jumlah dokter dan pasien tidak seimbang.
“Saat ini dokternya hanya 220 orang,” katanya.

Padahal, Untung melanjutkan, jumlah pasien yang butuh penanganan dokter spesialis mencapai ribuan. Kondisi tersebut diduga karena panjangnya masa belajar sebagai dokter spesialis.

“Waktu belajar dari dokter umum ke dokter spesialis bedah syaraf tujuh tahun,” tambahnya.

Parahnya lagi, menurut Untung, dari 220 dokter spesialis bedah syaraf di Indonesia, sebagian di antaranya sudah tergolong berusia lanjut. Dalam waktu dekat mereka akan memasuki masa pensiun.

“Seharusnya mereka digantikan dengan dokter-dokter muda,” harap dia.

Ditanya tentang kemampuan dokter spesialis bedah syaraf Tanah Air, Untung menjamin tidak kalah dengan dokter dari luar negeri. Hanya, selama ini masyarakat belum meyakini hal itu. Sehingga masyarakat tetap memilih dokter dan RS di luar negeri.

Selain karena faktor gengsi masyarakat, fenomena berobat ke luar negeri disebabkan juga minimnya promosi. Penyakit yang ditangani dokter spesialis bedah syaraf seperti trauma benturan, tumor, vaskuler dan degeneratif.

“Yang paling banyak trauma,” teran dia.

Comments are closed

A- A A+