GAGASAN : Kota Seribu Julukan

0

Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo

Kota-kota di dunia sering mengenalkan diri dengan julukan. Kota tentu memiliki kekhasan agar bisa memikat orang, mengajak orang menikmati-mengalami kota. Julukan diberikan mengacu ke bukti-bukti, pengakuan faktual. Kita pun bisa mengimajinasikan kota-kota di dunia melalui julukan meski belum sempat mengunjungi. Kota-kota memiliki julukan, menjadi representasi identitas dan kesejarahan kota. Julukan mengandung makna, tak cuma kata-kata di spanduk kota atau brosur pariwisata.

Hasrat menjuluki kota melanda Solo. Sekian julukan diberikan dalam waktu singkat. Kita sudah akrab dengan julukan Solo sebagai kota budaya, kota kuliner, kota seni, kota pers, kota batik. Julukan-julukan baru pun diusulkan dengan klaim birokrasi dan pelbagai institusi. Kita mulai mengenal Solo adalah kota vokasi, kota kreatif, kota keroncong, kota selawat. Pemberian julukan biasa dilakukan dengan acara besar, melibatkan ratusan atau ribuan orang. Julukan belum tentu bermakna. Julukan bisa melulu bukti kecanduan birokrat membuat pencitraan kota.

Pemerintah pasti memilih julukan-julukan heboh dan megah ketimbang memunculkan julukan sesuai kondisi kota. Mereka malu jika menjuluki Solo adalah kota sampah atau kota iklan. Julukan ini tak mungkin diberikan meski kegagalan Solo meraih Adipura akibat kegagalan mengurusi sampah. Propaganda julukan menandai ada pamrih besar mengonstruksi kota dengan kata tanpa harus ada pembuktian. Julukan bisa mengelak dan bersebarangan dengan realisme kota. Sekian julukan mentereng telah ditempelkan untuk kota Solo, dijajakan melalui sebaran spanduk, acara, brosur pariwisata, sosialisasi di sekolah dan kampus, juga kaus. Solo pun resmi menjadi kota seribu julukan.

Kecanduan julukan bisa mengakibatkan arogansi dan ekslusivisme. Julukan Solo sebagai kota seni, batik, pers telah melewati zaman demi zaman, terbukti dan terakui merujuk ke realisme kota. Solo juga pernah menjadi kota dengan puluhan terbitan koran dan majalah. Julukan kota pers pantas meski bisa mengalami revisi jika menilik situasi Solo di masa sekarang. Julukan-julukan bisa mengabadi dan sekejap bergantung dinamika dan model tranformasi kota. Julukan-julukan sekejap terjadi saat penguasa, pengusaha, elite berkepentingan mendadani kota berpamrih politik atau bisnis. Julukan mirip sihir tak manjur atau mantra tak mujarab untuk mengajak publik mendefinisikan diri dan mengartikan kota.

Usulan-usulan julukan sering gagal terwuju melalui agenda kota tapi berterima. Seniman Suprapto Suryodharmo sering berkata tentang Solo dengan tiga julukan: kota pusaka, kota pujangga, kota pustaka. Beliau tekun membuat acara-acara demi melegitimasi Solo. Penjelasan-penjelasan selalu diajukan, dilontarkan di pelbagai forum diskusi dan komentar di media. Usulan itu belum meresap ke kalbu publik, hadir sebagai tema besar tanpa penjelasan tuntas. Tiga julukan itu memang memiliki “kebenaran” menilik sejarah kota Solo, dari abad ke abad. Pengakuan memerlukan bukti dan tafsiran kontekstual. Pekerjaan menuliskan selisik sejarah demi tiga julukan itu belum dilakukan secara komprehensif. Warisan-warisan dari masa lalu juga diam, membisu oleh kealpaan publik.

Kita bisa mengajukan pengujian atas julukan kota pustaka dan pujangga. Solo bertumbuh bersama keagungan para pujangga, publikasi buku-buku dengan pelbagai tema. Para pujangga memberi ruh atas lakon Solo. Warisan-warisan mereka perlahan terlupakan. Orang-orang mulai sulit mengenali Yosodipuro II, Mangkunegara IV, Ranggawarsita, Padmasusastra, Paku Buwono IV, Mangkunegara IV. Publik juga enggan untuk mengunjungi Museum Radya Pustaka atau Reksa Pustaka untuk menelisik kesejarahan Solo dan kontribusi para pujangga. Pelupaan juga terjadi dalam kesejarahan pustaka. Solo pernah memiliki sekian penerbitan buku dan menjadi ruang hidup bagi agenda-agenda literasi. Pengetahuan kita memang belum terang, menilik masa silam kepustakaan sebagai identitas-kultural kota. Kita masih menantikan ada sejarawan atau intelektual bisa menulis signifikansi penerbit AB Siti Sjamsijah, Sadu Budi, Ramdhani, UD Mayasari bagi arus perkembangan Solo, melintasi waktu demi waktu.

Kita miskin penjelasan sejarah, rawan dengan pembiasan identitas Solo. Kebiasaan memberi julukan terus berlangsung, tak memiliki basis kesejarahan dan pengukuhan makna. Solo memang kota seribu julukan. Kita diajak membuat daftar panjang, menghafal julukan-julukan tanpa mengerti misi dari konstruksi identitas kota. Sebaran pengetahuan atau misi edukasi tentang kota telanjur dientengkan oleh pihak-pihak berkepentingan. Pengesahan atau sosialisasi justru sering dilakukan dengan membuat festival, karnaval, pemecahan rekor MURI. Edukasi dengan penelitian, publikasi buku, diskusi jarang terjadi akibat ketakpahaman birokrasi dan pengambil keuntungan dari sosialisasi julukan.

Sekian komunitas sastra di Solo pernah memberi sindiran tentang keterpinggiran literasi di Solo. Mereka ada keinginan mengakui bahwa Solo adalah kota pustaka dan kota pujangga. Sindirian itu diwujudkan dengan menerbitkan buku kumpulan cerpen tentang Solo berjudul Lamaran Sri (Pawon, 2009). Agenda komunitas sastra Pawon juga mengarah ke edukasi publik melalui pelatihan menulis dan diskusi. Agenda-agenda itu dilaksanakan di Taman Balekambang, Sriwedari, Ndalem Padmasusastra, Museum Radya Pustaka. Misi edukasi sastra dan literasi itu demi pengukuhan Solo sebagai kota pujangga dan kota pustaka. Mereka menjalankan dengan iuran. Ikhtiar ini tak pernah mendapat sambutan dari dinas-dinas di naungan pemerintah kota Solo. Pemerintah tak memberi sokongan dalam bentuk dana atau kemudahan fasilitas. Komunitas Pawon semakin mafhum bahwa misi harus dijalankan tanpa pemerintah. Mereka justru rela memberikan dana saat pengelola Taman Balekambang, Sriwedari, Museum Radya Pustaka meminta retribusi berdalih tiket atau uang sewa tempat.

Solo menjadi kota kontradiktif. Produksi julukan masih dilakukan meski tak berpijak ke tradisi, sejarah, karakter-mentalitas, politik, ekonomi, sosial. Julukan sering diajukan berkaitan dengan “pariwisatisme”, godaan investasi-bisnis, pencitraan kekuasaan. Nalar picisan ini menguak keganjilan dan kemubadziran pemberian julukan. Kita mesti memiliki keinsafan, sadar diri tentang pengaruh julukan bagi perkembangan kota beridentitas. Kita tidak menginginkan setiap bulan ada upacara peresmian julukan atas inisiatif penguasa atau pihak-pihak berkepentingan. Julukan mesti bermakna, mengisahkan dan memberi pengukuhan identitas Solo. Kita juga perlu merenung sejenak agar tak penat memikirkan julukan-julukan mentereng bagi kota Solo. Suparto Brata dalam novel Tak Ada Nasi Lain (2013) mengingatkan: Solo adalah kota asmara. Oh!

 

 

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)

    A- A A+