FESTIVAL DOLANAN BOCAH 2013 : Ratusan Anak Bakal Bermain Bersama

Mahardini Nur Afifah/JIBI/SOLOPOS 0

Siswa SD Sabrang Lor 78 mempentaskan permainan tradisional Cublak-cublak Suweng saat Festival Dolanan Bocah 2011 di Gladak, Solo, Minggu (8/5/2011). (Dok/JIBI/SOLOPOS)

Ratusan anak dari delapan sanggar kesenian di Kota Bengawan bakal meramaikan Festival Dolanan Bocah 2013. Festival diselenggarakan selama dua hari di Plaza Sriwedari, Sabtu-Minggu (18-19/5/2013).

Beragam permainan tradisional yang kini mulai jarang kelihatan karena tergerus peradaban, akan kembali dimainkan oleh sejumlah anak dari Sanggar Seni Semarak Candra Kirana, Galuh Art,  Sarwi Budaya, Penta Budaya, Arlang Budaya, Krida Budaya, Sana Budaya dan Meta Budaya.

Bergantian, mereka memainkan dolanan lawas seperti Enjuk Tali Enjuk Emping, Gobaksodor, Jamuran, Delikan, Engklek, Betengan, Lompatan dan lain sebagainya. Tak hanya bermain, mereka juga unjuk kebolehan lewat pergelaran seni gerak dan lagu.

Ketua Pelaksana Festival Dolanan Bocah 2013, Esti Andrini, kepada wartawan, Selasa (14/5/2013) siang, mengatakan penyelenggaraan dolanan bersama ini disesuaikan dengan jam bermain anak-anak pada umumnya.

“Kami sengaja menyelenggarakannya seperti jam bermain anak-anak pada umumnya. Pada Sabtu, kami mengadakan festival mulai dari pukul 16.00 WIB-19.00 WIB. Lalu pada Minggu, kami sengaja menyelenggarakannya mulai pukul 07.00 WIB-09.00 WIB,” katanya.

Berbeda dengan penyelenggaraan Festival Dolanan Bocah tahun sebelumnya, lanjutnya, pada gelaran ini porsi permaianan anak akan dibuat lebih banyak dibandingkan pertunjukan seni gerak dan lagu.

“Kalau yang dulu-dulu kan lebih banyak tarian dan nyanyiannya. Sesuai saran dari akademisi dan hasil rapat di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata [Disbudpar] Kota Solo, tahun ini porsi permainan tradisional menjadi yang utama,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Disbudpar Kota Solo, Widdi Srihanto, menuturkan permainan tradisional bermanfaat untuk mengajarkan anak-anak tentang solidaritas antarsesama dan bisa meluruhkan perbedaan di antara pelaku dolanan.  Widdi berharap kegiatan ini bisa menjadi media pelestarian seni dan budaya lokal yang pernah berkembang di masyarakat.

“Mengingat dolanan bocah kini sudah tidak dikenal lagi oleh anak-anak, maka kami berusaha nguri-uri dolanan bocah dengan kombinasi seni gerak dan lagu sesuai zamannya. Jadi dolanan bocah bisa dikenang dan tidak punah,” jelasnya.

Selain melestarikan tradisi, Disbudpar juga ingin menyediakan ruang berekspresi bagi sanggar-sanggar seni yang ada di Kota Solo.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)

    A- A A+