Solo Waspadai 2 Daerah Endemis Anthrax

Chrisna Chanis Cara/JIBI/SOLOPOS 0

ilustrasi hewan kurban (JIBI/SOLOPOS/Antara)

SOLO – Menjelang Hari Raya Idul Adha, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mewaspadai distribusi hewan kurban yang berasal dari wilayah endemis Anthrax. Dua daerah endemis di Soloraya yakni Boyolali dan Sragen akan menjadi perhatian tersendiri.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Solo, Wenny Ekayanti, saat ditemui sebelum Sosialisasi Tata Cara Penyembelihan Hewan Kurban di Balaikota, Selasa (2/10/2012), mengaku mengantongi dua daerah yang harus diberi pengawasan khusus dalam distribusi hewan kurban.

“Daerah yang belum lama terkena kasus anthrax seperti Boyolali dan Sragen akan lebih diwaspadai. Selain mengecek fisiknya, kami akan menanyakan kelengkapan surat kesehatannya,” ujar dia.

Untuk menanggulangi hal iyu, pihaknya siap menyiagakan sejumlah dokter hewan di 51 kelurahan di Kota Solo. Di samping pemeriksaan klinis, imbuhnya, dokter akan menggelar pemeriksaan laboratorium bila diketahui ada hewan yang terindikasi anthrax.

“Kami akan ambil sampel darah dan vesesnya untuk memastikan hewan tersebut layak disembelih.”

Terkait distribusi kurban dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, pihaknya menyerahkan sepenuhnya pada konsumen. Menurutnya, masyarakat sudah cerdas dalam mengambil pilihan. Di sisi lain, Wenny memastikan telah menggelar sosialisasi pada peternak di Putri Cempo.

“Peternak hanya boleh menjual ternak yang telah dikarantina minimal enam bulan.” Wenny beralasan sapi di Putri Cempo memiliki kadar timbal yang mengkhawatirkan.

“Setiap tahun kadar timbalnya terus meningkat. Tahun ini ada penelitian lagi dari Balai Penelitian Veteriner Bogor, kita tunggu saja hasilnya.”

Lebih lanjut, pihaknya berharap masyarakat lebih memperhatikan kesejahteraan hewan sebelum maupun saat disembelih. Menurutnya, hal tersebut seringkali dilupakan masyarakat.

“Kambing jangan diletakkan terlalu berhimpitan di mobil bak, bisa stress. Selain itu saat menyembelih, pastikan darah yang mengalir sudah tuntas. Jangan sampai masih hidup sudah dikuliti. Ini namanya menyiksa,” pesannya.

Sementara itu, Sekretaris 2 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo, Sumardi Muchsin, mengimbau masyarakat jeli dalam memilih hewan kurban. Sumardi menguraikan, kambing yang boleh dikurbankan minimal berusia dua tahun, sementara sapi lima tahun.

“Kurban juga harus dinyatakan sehat setelah diperiksa Dispertan.”

Selain itu, imbuhnya, masyarakat bisa melihat kesehatan hewan kurban dari ciri lahiriah. Ciri-ciri tersebut yakni anggota badan lengkap dan jika berjalan tidak pincang.

“Harus dicek apakah tanduk, telinga, ekor dan sebagainya lengkap. Kakinya juga dilihat, pincang atau tidak,” pungkasnya.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)

    A- A A+