Pengrajin Genteng Diuntungkan Kemarau Panjang

Farid Syafrodhi/JIBI/SOLOPOS 0

Perajin genteng di Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, menata genteng untuk dijemur, Senin (1/10). Perajin genteng di desa tersebut diuntungkan dengan adanya kemarau karena perajin bisa memproduksi genteng dengan kualitas bagus. Bila kualitasnya bagus, perajin bisa mengeruk keuntungan lebih banyak. (JIBI/SOLOPOS/Farid Syafrodhi)SUKOHARJO – Perajin genteng di Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, diuntungkan dengan musim kemarau yang panjang. Pasalnya produksi genteng yang dibuat oleh perajin di sentra industri genteng, itu meningkat dan kualitasnya lebih bagus.

Salah satu perajin genteng di Desa Wirun, Darso, mengatakan selama kemarau, dia dan beberapa pekerjanya tidak pernah berhenti membuat genteng karena permintaan meningkat. Karena kesempatan permintaan meningkat, ia pun menaikkan harga genteng yang dia produksi. Semula 1.000 genteng hanya dihargai sekitar Rp800.000-Rp900.000, kini harganya ia naikkan menjadi Rp1,2 juta. “Tapi kenaikan itu juga menyesuaikan dengan bahan baku genteng, yakni tanah liat yang harganya juga naik,” ujar Darso kepada Solopos.com, Senin (1/10/2012).

Harga tanah liat sebelumnya per truk engkel Rp200.000. Namun kini tanah liat yang diambil dari Jumantono, Kabupaten Karanganyar, itu mengalami peningkatan mencapai Rp230.000 per truk engkel. Untuk biaya produksi, dia mengeluarkan biaya produksi setidaknya Rp1 juta. Selain tanah liat, dibutuhkan juga solar, bensin dan air untuk melumasi genteng agar tidak lengket ketika dicetak.

Pada musim kemarau seperti saat ini, menurutnya, bisa menghasilkan genteng dengan kualitas sangat bagus karena mendapatkan panas yang maksimal dari matahari. Perajin hanya membutuhkan waktu sehari untuk mengeringkan genteng yang baru dicetak. Sementara saat musim hujan, dia membutuhkan waktu setidaknya empat hari agar genteng yang diproduksi bisa kering secara maksimal. “Hasilnya sangat jauh berbeda. Genteng jadi lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan genteng yang dijemur saat masih musim hujan,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan karena penjualan genteng sedang bagus, maka ia menggenjot produksi. Musim kemarau seperti saat ini, katanya, adalah waktu untuk membayar hutang di bank, yang dipinjamnya saat penjualan genteng sedang lesu. “Setelah genteng keluar dari tungku pembakaran, biasanya tak lama sudah ada pembeli yang datang. Tapi kalau musim hujan bisa sepekan datang pembeli hanya sekali,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan perajin genteng lainnya, Trisno Wiyono. Menurutnya, banyak perajin genteng yang saat ini mengeruk keuntungan karena masih musim kemarau. Pasalnya bila musim hujan, biaya produksi justru makin membengkak karena harus membeli berbagai bahan seperti solar dan kayu untuk proses pengeringan genteng. “Kalau musim kemarau juga lebih banyak orang yang membuat rumah, jadi mereka juga banyak yang beli genteng. Tapi kalau sedang musim hujan sedikit yang beli genteng karena orang yang membuat rumah juga sedikit,” ungkap Trisno.

Selama beberapa bulan terakhir ia juga menaikkan harga genteng yang dia produksi. Biasanya untuk 1.000 genteng ia jual Rp600.000, kini harganya ia naikkan menjadi Rp1 juta. Kenaikan harga itu, kata dia, sebagian untuk menutup biaya produksi dan sebagian lagi untuk membayar pekerja. “Karena setiap hari produksi, saya menambah tenaga,” katanya.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)

    A- A A+