MUTASI GURU: Pemindahan ke Tingkatan Sekolah Lebih Rendah Tak Perlu Jadi Masalah

Dian Dewi Purnamasari/JIBI/SOLOPOS 9

M Furqon Hidayatullah (Nadhiroh/JIBI/SOLOPOS)

SOLO – Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan (FKIP) Universitas Sebelas Maret Surakarta, M Furqon Hidayatullah menilai pemindahan guru untuk mengajar di sekolah yang tingkatannya lebih rendah tak perlu jadi masalah. Ini karena kebutuhan guru harus dipetakan sesuai dengan kebutuhan.

“Kalau permasalahannya ada guru yang berlebih opsinya ada dua. Pindah daerah atau turun mengajar ke sekolah yang lebih rendah tingkatannya. Soalnya kalau tidak diratakan konsekuensinya tidak ada tunjangan sertifikasi dari pusat,” terang dia saat dihubungi Solopos.com.

Menurut Furqon, guru SMP dan SMA yang akan mengajar di SD perlu diberikan pembekalan-pembekalan terlebih dahulu. “Yang menjadi masalah mungkin psikologis guru yang akan dipindah. Ada semacam anggapan bahwa mengajar di SD atau TK itu levelnya lebih rendah. Padahal tidak, mengajar di manapun itu mulia,” imbuh Furqon.

Hal utama yang harus diperhatikan adalah negara tidak dirugikan dengan penumpukan guru di SMP dan SMA. Sedangkan di tingkat yang lebih bawah seperti guru sekolah dasar masih banyak kekurangan guru. “Saya contohkan seperti program Indonesia Mengajar. Itu kan juga tidak harus linier bidang ilmunya. Mereka terdesak karena faktor keterpaksaan karena di daerah tidak ada guru,” tandas Furqon.

9 Komentar untuk “MUTASI GURU: Pemindahan ke Tingkatan Sekolah Lebih Rendah Tak Perlu Jadi Masalah”

  1. sekarang main fair aja pak dekan. bagimana kalau njengan sekarang ngajar di SD aja. Sesuai dengan statemen njenengan, Nah, sekarang silakan buat surat yang permohonan kepada rektor yang menyatakan anda ingin ngajar di SD saja. tidak ingin jadi dosen yang ngajar di FKIP. Kami ingin lihat statement njenengan, apakah bisa diterapkan pada njengengan ?????? mari kita lihat sama – sama ke depan. apakah njengan tetap jadi ngajar di FKIP jadi dosen ato jadi guru SD ??? jika tetap jadi dosen, nyuwun sewu.. saran kulo, menawi ngendikan sing toto, dipengalih rumiyen, ampun sak udele dewe pak dekan. lihat psikologi teman2 guru di bawah, jangan lihat di atas terus pak dekan. nah, mohon maf kurang lebihnya pak dekan. pissssss !

  2. Guru Sd…. ??????
    Dengan seabreg administrasi …… !!!!
    sebanyak tuntutan “….. ayo ajari semuanya …. guru borongan ”
    Tuntutan kurikulum yang tak mau habis ….. “beda tipis dengan SMP”
    “wowo wajib belajar….. siswa full tank… boenyak sekali”
    “Minta Prestasi tinggi….. anak harus super siap lanjut ke SMP ”
    wo”Kunsultan ulung….. ayo anak-anak …. jadi baik ya!!!

    wowowowow ” ….. renungkan”

    kelas 1 sampai 6….., rentang kurikulum kelas 3 dan 4 seperti bumi dan langit….. dilihat-lihat seperti mengajar SMP.

    “Mari perhatikan guru SD….., Guru Super”

  3. Pak,kalo saya guru SD yang sudah bersertifikasi tapi saya kena mutasi ke tingkatan yang lebih tinggi yaitu SMP. Pertanyaan saya, bagaimana supaya sertifikasi saya tetap cair?karena sampai saat ini sertifikasi saya tidak bisa cair.

  4. Pak Dekan ini yen ngendiko enak wae, memang ngajar di SD itu mudah apa ? Coba bapak ngajar di Sd, bisa terkencing kencing nati , apalagi ngajar kelas satu.Pendapat pak dekan ini di tentang, saya sangat tidak setuju usulan bapak tersebut. Sama sama dekan pak, saya sendiri ngajari anakku di SD sangat sulit, ngambek, nangis, rewel,Lain kalau saya ngajar para mahasiswa, suruh baca, rangkum minggu depan ulangan BEREEEEES. Kalau anak SD apa bisa begitu pak Dekan ? Salam kanggo konco2 di Solo.

  5. guru kelas ato guru mapel pak Furqon? Nanti klo guru kelas apa bisa dianggap profesional? Klo guru mapel apa memang pendidikan di SD siap berubah dari guru Kelas ke guru Mapel seperti SD SD unggulan mis Karangturi, itu?

    • coba pak dekan pikir ya andai saya guru sma sdh sertitikasi tapi kena mutasi mengjar di sd dan ditempat baru tsb jam mengajar tidak sampai 24 jam. berarti tunjangan sertifikasi saya hilang dong mas. padahal setiap akan cair sertifikasi pasti ada pendataan ulang dan yang berlaku adalah data yang terakhir. bisa tidak saya minta ganti sertifikasi sama sampyan.atau pak dekan jadi guru sd mau nggak ya.

  6. Setuju dengan pendapat P Furqon, sudah saatnya Indonesia mulai realistis demi kesejahteraan bersama. Ga ada beda guru SD, SMP, SMA. Bahkan kesulitan semakin besar di level SD. Tetap semangat para bapak, ibu guru.

    • ya ada to mas bedanya, namanya guru TK, SD, SMP, SMA. Sampeyan pernah gak sih sekolah di tempat tersebut, Mbok ojo ngawur kalo ngasih pendapat, Sekolah kok untuk main-main. Guru TK suruh ngajar di SMA atau sebaliknya, bisa nggak hayoooo,Pendidikan kok diacak-acak, cuma demi uang sertifikasi, oalah dewooooo dewo, paringono sabar.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)

    A- A A+