MOS SISWA: SD dan SMP Dilarang Pungut Biaya MOS

JIBI/SOLOPOS/Tri Rahayu 0

Ratusan siswa baru di SMKN 1 Sragen mengikuti masa orientasi siswa (MOS) di Aula SMKN 1 Sragen seusai mengikuti pembukaan MOS se-Kabupaten Sragen oleh Bupati Sragen, Agus Fatchur Rahman, di sekolah setempat, Senin (16/7). (JIBI/SOLOPOS/Tri Rahayu)

SRAGEN—Sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Kabupaten Sragen dilarang memungut siswa baru untuk kegiatan masa orientasi siswa (MOS) yang berlangsung selama tiga hari, sejak Senin-Rabu (16-18/7). Sedangkan SMA/SMK diperbolehkan memungut biaya MOS kepada siswa baru.

Sekretaris Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Dinas Pendidikan (Disdik) Sragen, Hadi Sutopo, saat dihubungi Solopos.com, Senin, mengungkapkan berdasarkan petunjuk teknis Disdik Sragen sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) boleh memungut biaya MOS kepada siswa baru. Namun untuk SD dan SMP, tegas dia, tidak boleh memungut biaya MOS kepada siswa baru.

“MOS di SD dan SMP diambilkan dari dana bantuan operasional sekolah (BOS). Bagi SD dan SMP yang memungut biaya MOS kepada siswa akan dikenakan sanksi tegas. Bagi SMA/SMK boleh memungut sesuai dengan kebijakan sekolah masing-masing,” ujar Hadi.

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMKN 1 Sragen, Sugimin, saat dijumpai wartawan, menerangkan pembukaan MOS untuk SMP, SMA dan SMK se-Kabupaten Sragen dilakukan oleh Bupati Sragen, Agus Fatchur Rahman, di SMKN 1 Sragen, Senin pagi. Setidaknya ada 450 siswa baru perwakilan SMP, SMA dan SMK di Sragen yang hadir dalam seremonial itu.

“Seremonial pembukaan MOS merupakan awal dilaksanakannya MOS di Sragen untuk tiga hari ke depan. Dalam kegiatan itu ditekankan tidak ada perpeloncoan atau kekerasan selama MOS, melainkan membuat nyaman kepada siswa baru dalam mengikuti MOS. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan berupa kegiatan yang menyenangkan bagi siswa baru,” tutur Sugimin yang didampingi Jamin, Wakil Kepala Bidang Ketenagaan SMKN 1 Sragen.

Menurut dia, biaya MOS di sekolahnya dibebankan kepada siswa senilai Rp50.000/orang. Sedangkan untuk pengadaan seragam bagi siswa baru, ujar Sugimin, belum ada pembicaraan dengan orangtua siswa. “Yang jelas sebagian besar siswa baru sudah nitip uang senilai Rp100.000/orang. Uang itu digunakan untuk biaya MOS senilai Rp50.000/orang dan sisanya diarahkan untuk pembelian seragam. Tapi sifatnya masih titip karena belum ada kebijakan soal seragam dari sekolah,” tambahnya.

Dia menekankan khusus untuk siswa baru dari keluarga miskin, yakni sebanyak 72 siswa dari 384 siswa tidak dibebani biaya apa pun. Menurut dia, termasuk dalam pembelian seragam untuk siswa miskin juga akan dibahas oleh komite sekolah.

Terpisah, Kepala SMPN 6 Sragen, Jasmanto, mengatakan selama kegiatan MOS, siswa baru tidak dipungut biaya apa pun. Dia menegaskan biaya MOS selama tiga hari diambilkan dari dana BOS. “Di akhir kegiatan MOS, kami akan mengadakan doa bersama dan training motivasi spiritual di Ganesha Technopark. Harapannya siswa baru bisa memiliki kecerdasan spiritual dan emosional yang baik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di SMPN 6 Sragen,” tuturnya.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)

    A- A A+