KRISIS KEDELAI: Pengrajin Tahu Berproduksi Lagi, Tunda Jual Produk Hingga Sabtu

Iskandar/JIBI/SOLOPOS 0

Seorang penjual tahu terlihat tetap berjualan tahu di Pasar Ir Soekarno, Sukoharjo Kota, meski banyak penjual tahu yang masih libur berjualan terkait tingginya harga kedelai. (JIBI/SOLOPOS/Iskandar)

SUKOHARJO – Setelah sempat menyatakan mogok, Sebagian pengrajin tahu dan tempe di Purwogondo dan Brotowiryan, Kartasura, Sukoharjo mulai berproduksi. Tetapi barang yang mereka buat itu baru akan dilempar ke pasar hari Sabtu (28/7/2012).

“Rencana mogok produksi yang kami lakukan kan dua hari yaitu Rabu dan Kamis. Karena itu kalau sekarang sekadar membuat tahu kan tidak masalah,” papar Sekretaris Paguyuban Pengrajin Tahu dan Tempe Wijaya Kusuma, Kecamatan Kartasura, Suradi Cokro Ismoyo, kepada Solopos.com. Lebih lanjut Suradi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada media massa yang dinilai telah ikut membantu menyuarakan keresahan para pengrajin, hingga akhirnya di dengar pemerintah. Buntutnya, papar dia, harga kedelai bisa turun kendati belum signifikan.

Dia menjelaskan dengan turunnya harga kedelai Rp125 per kilogram dari harga semula Rp8.000, pihaknya mengaku hanya mendapat laba kira-kira Rp1.000 setiap mengolah 5 kg kedelai untuk bahan tempe atau tahu. “Keuntungan kami belum signifikan. Karena itu kami berharap pemerintah kembali menurunkan harga hingga seperti semula yaitu Rp5.000 atau maksimal Rp5.500 per kilogram.”

Sebelumnya, Rabu lalu ratusan pengrajin tahu dan tempe dari empat desa di Kecamatan Kartasura, Sukoharjo dan sejumlah pengrajin tahu asal Pengging, Boyolali berdemo di bundaran pertigaan Tugu Pancasila, Kartasura. Mereka menuntut pemerintah segera menurunkan harga kedele yang menjadi bahan baku tahu dan tempe.

Secara terpisah salah seorang penjual tahu di Pasar Ir Soekarno Sukoharjo, Ny Suparmi, 60, mengatakan sejak Rabu tetap berjualan. Karena makanan tahu yang dibawanya berasal dari Weru, Sukoharjo. Dia mengakui dirinya terpaksa harus berjualan kendati harus merugi, gara-gara sepi pembeli menyusul tingginya harga kedelai.

Karena dia telanjur terbelit utang kepada beberapa pemilik sapi di desanya yakni Tegalrejo, Weru, Sukoharjo. Sebagai konsekuensinya, tutur Suparmi, dia harus memroduksi tahu agar memperoleh ampas untuk pakan ternak sapi milik orang yang telah memberi modal. “Kalau desa panen kedelai, tidak begitu terasa, karena kedelai panenan saya bisa untuk campuran,” kata Suparmi.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)

    A- A A+