Jam Antik, Pas Buat Rumah Klasik

Arif Fajar S/JIBI/SOLOPOS 0

Ilustrasi (Foto: Arif FS/JIBI/SOLOPOS)

SOLO–Bunyi lonceng terdengar dari sebuah jam dinding. Bunyinya khas dan tak asing lagi bagi penggemar jam dinding klasik. Suara lonceng bisa terdengar setiap 15 menit atau 30 menit.

“Suara loncengnya khas, membuat kita teringat masa lalu ketika belum ada jam modern atau otomatis,” tutur Marno, warga Solo kepada Solopos.com, belum lama ini, ketika memilih jam di toko jam Mutiara Singosaren, Solo.

Memang suara lonceng jam dinding klasik dan antik seakan membawa ke masa lalu. Namun bagi yang agak alergi dengan bunyi lonceng, suara itu bisa jadi malah mengganggu.

“Mungkin karena bunyi lonceng sering menjadi ilustrasi dalam film horor, ketika mendengar suara aslinya ikut terbawa ke suasana horor,” tuturnya.

Namun hal itu tidak masalah bagi penggemar jam dinding klasik dan antik. Jam dinding tersebut semakin mempercantik rumah. Apalagi jika rumahnya juga klasik alias kuno.

“Pembelinya memang sebagian besar yang suka barang-barang antik dan klasik. Begitu melihat bentuknya, mereka langsung tertarik,” tutur Joko Kardianto yang akrab disapa Anto, pemilik kios di Pasar Triwindu di kawasan Ngarsopuro, Keprabon, Solo kepada Espos, Selasa (25/9).

Nah, karena sudah senang dulu kemudian tertarik, lanjutnya, biasanya soal harga tidak jadi persoalan. Kalau penggemar jam antik menawar, harganya tidak jauh dari harga awal.

“Bahkan ada yang sudah pernah beli, kemudian datang lagi ke kios saya untuk membeli jam dinding lagi,” tutur Anto.

Menurut Anto, pembeli yang datang ke kiosnya sebagian besar dari luar kota. “Pembelinya kebanyakan dari Jakarta, orang-orang yang punya duit jadi soal harga tidak masalah bagi mereka yang penting senang dan cocok bentuknya,” tambah Anto.

Selain untuk rumah, ada juga yang digunakan aksesori kafe.

Jam klasik dan antik yang dijual di kios Anto di Pasar Triwindu memang tidak didatangkan dari negara pembuatnya seperti Jerman, Jepang dan China. Jam tersebut didapatkan dari pemiliknya yang sudah bosan dan ingin menjualnya.

“Dulu saya berburu namun dengan kemajuan alat komunikasi, sekarang yang mau jual tinggal menelepon kemudian saya lihat. Jika cocok dibeli. Harganya mulai dari ratusan ribu rupiah sampai jutaan rupiah,” paparnya.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)

    A- A A+