DOKTER GIGI: Ke Dokter Gigi Menyenangkan Kok…

Lutfiyah/JIBI/SOLOPOS 0

Mengajak anak periksa ke dokter bagi sebagian orangtua bukan perkara mudah. Ada saja alasan yang dilontarkan anak-anak menolak kegiatan berkunjung ke dokter, salah satunya karena takut. Apalagi, kunjungan ke dokter gigi.
Umumnya anak yang tidak dibiasakan berkunjung ke dokter gigi merasakan ketakutan seperti takut disuntik sampai takut giginya dicabut. Belum lagi ketika mereka melihat jarum, tang dan bor serta peralatan periksa gigi lainnya.
Kesan seperti itu yang membuat anak menjadi fobia dan trauma datang ke dokter gigi. Belum lagi jika dari awal orangtua tidak jujur kepada anaknya seperti mengatakan periksa gigi itu enggak sakit.
Hal itu, menurut dokter gigi anak, Lasmi Dewi Nuraini, justru membuat anak merasa tertipu sehingga tidak ingin diajak dalam kunjungan berikutnya.
“Sebaiknya saat akan berkunjung ke dokter gigi, orangtua mengatakan apa adanya apa yang akan dirasakan anak seperti nanti ada rasa sakit sedikit tapi akan hilang kok. Kalau seperti itu ketakutan anak bisa berkurang dan dia tidak merasa dibohongi,” ujarnya ketika ditemui Espos, Selasa (10/4).
Mengajak anak ke dokter gigi idealnya dilakukan saat gigi pertama atau gigi susu mulai tumbuh sekitar usia enam bulan. Sebaiknya ke dokter gigi tidak menunggu anak mengeluh sakit pada gigi tapi dilakukan sedini mungkin agar mereka mengenal kesehatan gigi, cara menggosok dan membersihkan gigi serta diceritakan tentang semua hal yang berkaitan dengan gigi sesuai dengan usia anak.
“Biasanya orangtua mengajak anak ke dokter gigi ketika ada masalah dan ingin dilakukan tindakan secepat mungkin. Yang jadi masalah belum tentu anak mau diambil tindakan, kesan pertama membuat anak ketakutan. Beda kalau sudah dibiasakan berkunjung ke dokter gigi,” terangnya.
Cara yang mudah mengajak anak ke dokter gigi salah satunya dengan membawa anak saat orangtua melakukan pemeriksaan namun dengan catatan
tindakannya sederhana seperti tambal gigi yang lubangnya tidak dalam.
Anak yang sudah dibiasakan mengenal dan berkunjung ke dokter gigi, menurut dokter gigi spesialis jaringan penyangga gigi, Christine, akan merasa fun dan nyaman sehingga lebih tanggap ketika giginya mengalami masalah atau keluhan. “Kalau sudah mengenal dan berkunjung ke dokter gigi ketakutan anak akan hilang, yang penting edukasi lebih dahulu. Nanti anak akan terbiasa,” katanya.
Selain dengan bercerita, tidak sedikit dokter gigi yang memiliki trik khusus menarik perhatian anak agar mau periksa gigi. Misalnya  kalau anak menurut, akan diberi mainan gigi atau stiker gigi supaya pengetahuan mereka bertambah dan lebih mengenal gigi.
Dia menyarankan orangtua yang tidak sempat membawa anak balita berkunjung ke dokter gigi sebaiknya rajin membersihkan permukaan gigi anak dengan menggunakan kain kasa yang dibasahi air hangat. Cara itu untuk membersihkan asam susu yang menempel di gigi.
“Setelah anak usia enam bulan atau ngedot susu, perawatan seperti itu harus dilakukan. Asam susu yang tidak dibersihkan akan lengket pada gigi sehingga terjadi karies gigi akhirnya gigi jadi habis,” katanya.
Dokter yang sehari-hari bertugas di RSUD dr Moewardi ini melanjutkan orangtua juga harus memperhatikan gigi anak yang pertama tumbuh agar jangan copot sebelum waktunya.
“Ini yang kadang orangtua tidak tahu. Kalau pencabutan dini bisa-bisa nanti ada benih pengganti yang kesasar arahnya,” katanya.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)

    A- A A+